Belajar dari Superoritas Orangtua Prancis Bagian 2

sat-jakarta.com – Dan para orangtua tidak peduli apakah anak mereka dihukum di depan banyak orang atau tidak. Untuk pengasuhan anak di rumah, biasanya para orangtua menggunakan jasa pengasuh. Mereka mengambil pengasuh dari Indonesia, Filipina, atau negara-negara di Afrika, sebab para orangtua di sana sibuk dengan karier mereka di kantor. Kalaupun para istri tidak bekerja, biasanya mereka pun sibuk di luar rumah.

Biasanya, waktu kebersamaan mereka dilakukan pada Jumat-Sabtu. Setiap habis salat Jumat misalnya, mereka biasanya makan bareng. Banyak hal yang mereka perbincangkan, salah satunya tentang pendidikan anak. Hal lain yang menjadi ciri khas di sini, anak-anak mereka dibebaskan untuk memiliki apa yang mereka inginkan seperti gadget.

Soalnya di sini rata-rata penduduk berstatus ekonomi menengah atas, sehingga bisa dengan mudah memenuhi keinginan anak. Diceritakan kepada Irfan Hasuki/nakita Terpaksa Druckerman dan suaminya bergantian menjaga Bean yang tak bisa diam berjalan ke sana kemari. Begitulah kejadiannya setiap kali mereka makan di luar, dan sejak itulah Druckerman memerhatikan keluarga-keluarga Prancis yang duduk di sebelah-sebelahnya.

Apa yang dilihatnya sungguh mengherankan, bagaimana bisa mereka makan di resto dengan santainya tanpa harus bersitegang dengan anak-anak yang tak bisa diam. Atau bagaimana mungkin mereka menunggu anakanak main di playground sambil berbincang dengan orangtua lain tanpa takut si anak berlarian ke luar area.

Bukan berarti anak-anak Prancis ini tak pernah rewel, mengamuk, ataupun bersikap semau-maunya sendiri, akan tetapi jika dibandingkan dengan Bean, putrinya itu, frekuensinya jauh lebih kecil. Sebagai seorang ibu dan juga jurnalis, temuan ini mendorongnya melakukan investigasi selama bertahuntahun (bukunya terbit pada 2012 ketika Bean berusia 6 tahun, dan adik kembarnya berusia 3 tahun).