Belajar dari Superoritas Orangtua Prancis

pascal-edu.com – Pamela Druckerman, Ibu 3 anak, tinggal di Paris, Kontributor ujntuk International New York Times. Penulis buku Bringing Up Bebe : Oen American Mother Discovers the Wisdom of French Parenting (2012) dan Bebe Day by Day: 1000 Keys to French Parenting (2013).

Kala putrinya berusia 18 bulan, Pamela Druckerman yang berkebangsaan Amerika dan suaminya yang berkebangsaan Inggris memutuskan pergi berlibur di sebuah kota pantai di Prancis. Namun apa yang terjadi? Liburan musim panas mereka terpaksa dilalui dengan aktivitas yang serba terburuburu dan tegang. Bean, begitu putri kecil mereka dipanggil, sukses membuat Druckerman dan suaminya tidak bisa berleha-leha.

Contohnya ketika dalam sehari mereka harus makan siang dan malam di luar hotel, yang terjadi adalah siksaan. Bean tidak betah duduk di kursi tingginya. Garam dan gula pasir bertaburan di mana-mana, sedangkan makanannya hanya dicolek sedikit saja. Firdaus Muchtar (43), ayah dari Nabila Rizki Amadea (14), Hammad Fida Rahman (10), Ziyad Fida Rahim (9) Saya cukup lama tinggal di Uni Arab Emirates, salah satu negara kaya di Timur Tengah.

Setelah saya amati, pola pengasuhan mereka agak berbeda dengan pola asuh yang diterapkan di Indonesia. Jika di Indonesia banyak orangtua yang overprotektif, di Uni Arab Emirates para orangtua memberikan kebebasan pada anak untuk menentukan perilaku sendiri. Soalnya, meski mayoritas penduduknya beragama Islam, pendidikan mereka sangat modern, berkiblat pada pendidikan Barat.

Bahkan, mereka lebih suka bersekolah di sekolah dengan kurikulum British American. Pokoknya sangat modern. Namun, kalau mereka melakukan kesalahan, hukuman yang diberikan biasanya sangat berat, sampai pada kekerasan fisik seperti dipukul dan ditendang.